Kisah Gaib

link alternatif Vegas188 Kisah Gaib Dari Tanah Aceh Yang Hilang Dengan Zaman

taruhan vegas188 bola online terpercaya Kisah Gaib “Bek tubit watéé maghréb, enteuk di cok lhéé geunteut!”. Buat beberapa anak Aceh yang hidup di zaman 90an, kalimat itu semestinya telah tahu kembali.

bandar judi vegas188 bola terbaik Kalimat itu jadi warning yang cukup manjur buat orang tua yang tidak akan anaknya kelayapan saat malam datang. Tentang hal kalimat itu mempunyai arti, “Jangan keluar waktu maghrib, kelak diambil (dilarikan) oleh geuntuet.”

Menjadi catatan, geunteut adalah penyebutan teristimewa warga tradisionil Aceh pada figur makhluk gaib yang dipercaya punyai bentuk mencekam, berbadan tinggi, mempunyai rambut keriting, dan punyai kaki yang paling panjang. Menurut narasi tinggi makhluk ini sampai pohon kelapa. Penyebutan geunteut tidak lepas dari makna geunteut sendiri, yang dalam kosakata Aceh bersinonim lewat kata ‘panyang’ atau ‘panjang/tinggi’.

taruhan vegas188 bola online terpercaya Figur geunteut diketahui bisa lari sekencang angin. Dia kerap memperlihatkan bentuknya waktu malam hari. Makhluk ini kadang-kadang diketemukan lagi menenteng priuk atau kanot geunteut. Menurut cerita, barangsiapa bisa ambil priuk itu, bisa mengonsumsi nasi kekal yang ada di dalamnya.

Figur geunteut diyakini sukai mencuri beberapa anak. Katanya, anak yang dilarikan oleh geunteut awalannya akan berhalusinasi tengah berada pada satu area yang bikin mereka demikian tenteram. Sewaktu sadar mereka mendapatkan dianya sendiri ada di satu area yang tidak diketahuinya.

bandar judi vegas188 bola terbaik Selang berapa saat, dia akan terasa rambutnya lagi diraba-raba oleh jari-jari kurus yang menyeramkan itu. Karenanya, banyak orang tua sebelumnya kerap mengingati supaya anaknya selalu meraba-raba rambutnya saat berjalan sendirian waktu malam hari. Sesudah itu, beberapa anak itu akan dibawa ke tengah rimbunan bambu besar, (peuredeu trieng: Bahasa Aceh) atau ke atas pohon besar seperti Ketapang.

Menurut narasi, sejumlah dari beberapa anak itu akan dikonsumsi hidup-hidup atau ditinggal demikian saja sampai pada akhirnya diketemukan pada kondisi bingung oleh orang sekampung yang telah beberapa hari cari anak itu. Banyak pada mereka sakit sehabis dilarikan geunteut. Makhluk gaib ini kerap memperlihatkan dianya sendiri terhadap orang berjalan kaki yang lagi melintasi lajur sepi serta gelap.
Soal ini pernah dihadapi oleh Sudirman (30), lelaki asal Suak Timah, yang ada di Dusun Penyiapan Peunaga Baro, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh. Satu malam di tahun 2000an, Sudirman yang ketika itu baru dari rumah saudara pulang melintasi jalan yang ada pada wilayah tepi rimba di kampungnya.
Di tengahnya perjalanan dia ingin tahu dengan figur kecil serupa semacam makhluk yang lagi berdiri di depannya. Muka makhluk itu tidak berupa, tapi punyai taring. Kian disaksikan, figur itu kian tinggi. Karena amat tingginya, sampai Sudirman mendangakkan kepala. Satu diantara ciri-ciri geunteut, makhluk ini akan nampak kian tinggi bila disaksikan ke atas, kebalikannya, dia akan juga mengecil bila disaksikan ke bawah.
“Ketika itu, saya ingat perihal narasi hantu yang dikisahkan ibu serta nenek bab geunteut,” cerita Sudirman. Sadar akan figur yang ada pada depannya, Sudirman melangkah seribu.
Narasi mirip dihadapi Dela Safrianeldy (35). Insiden itu seputar tahun 1996 waktu ia masih ada di kursi sekolah fundamen. Ketika itu, Dela menginap di dalam rumah temannya di Dusun Pasie Ujong Kalak, Meulaboh, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat.
“Tujuannya sich pengen kencing pada pohon kelapa dekat laut ketika itu. Serasi kembali kencing, nampak ada seperti asap hitam mengepul serupa makhluk apa begitu. Kok aneh, lambat-laun kian disaksikan kian tinggi ajamahluknya. Saya tak menjadi pipis, saya kenal kalaupun itu geuntut,” papar Dela.
Kecuali jadi momok yang kerap diucapkan secara oral oleh banyak orang tua sebelumnya terhadap anaknya, di dalam warga Aceh, penyebutan geuntut ada juga pada permainan tradisionil yang diketahui dengan permainan geunteut.
Permainan ini mirip permainan egrang di Pulau Jawa. Permainan geunteut memakai tangkai bambu menjadi bahan pentingnya. Tangkai bambu dibentuk demikian rupa maka dari itu dapat dinaiki. Permainan ini memakai keserasian tubuh pada injakan kaki yang dilekatkan pada tangkai bambu itu.
Dahulu, beberapa anak di Aceh sukai mainkan geunteut waktu sore hari datang. Yang naiki geunteut akan nampak semakin tinggi. Katanya, geunteut hadir kunjungi mereka yang bermain permainan ini pada di saat maghrib datang.
Menjadi catatan, di Aceh ada dusun yang memiliki nama Tengoh Geunteut yang ada di Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. Tapi, sampai waktu ini tidak ada yang mengait-ngaitkan nama dusun itu dengan figur makhluk yang diketahui cinta mencuri beberapa anak ini.