Mitos Kelong

Mitos Kelong Makhluk Gaib Penculik Manusia

Mitos Kelong Warga di perdesaan Banyumas, Jawa tengah yakini ada saat-saat spesifik munculnya makhluk gaib yang mempunyai potensi mengusik, atau bahkan juga membuat nahas.

Saat-saat itu ialah periode mediatoran yang disebutkan waktu tanggung. Antara saat-saat tanggung itu, ada dua yang demikian jadi perhatian, tanggung bedug dan tanggung sore atau sandekala.

Tanggung bedug mengarah berubahnya matahari dari segi timur ke barat, yang lalu disebutkan lingsir. Lingsir ialah saat matahari telah ada disamping barat, tetapi belum masuk waktu salat ashar.

Karena itu, pernyataan ini benar-benar terkenal di kelompok beberapa anak perdesaan, khususnya yang lahir saat sebelum penggantian milenium. “Tanggung bedug, mbok ana setang ngibing (Tanggung dzuhur, ada setan menari),” demikian yang kerap diperdengarkan.

Tentang hal waktu ke-2 munculnya makhluk gaib ialah tanggung sore atau sandekala. Beberapa anak dekat dengan peringatan orang-tua pada beberapa detik penggantian siang ke malam hari ini.

Beberapa orang yakini, ini ialah waktu keluarnya Kelong, makhluk tidak kasat mata yang dapat menyelong atau melarikan beberapa anak manusia. Konon, pada periode lalu, sering berlangsung ada bocah kecil dicuri dan baru diketemukan pada esok harinya, di tengah-tengah rimba.

Cerita seram Kelong tidak cuman stop di situ. Warga perdesaan yakini, makhluk gaib ini dapat menyamar jadi apa. Dia menjadi putri yang elok atau pemuda cakap. Juga bisa dia beralih menjadi serupa bagian keluarga korbannya.

Saat keselong, di alam sana, korban akan dijamu dengan bermacam makanan sedap. Ada gulai, sop daging, ikan, ayam, dan bermacam buah-buahan ranum.

Tetapi, itu cuman pandangan sang korban. Waktu diketemukan, umumnya sang pencarian akan mendapati jika korban konsumsi kotoran hewan, cacing, atau bermacam hewan renik memuakkan.

Nah, narasi orang raib di Banyumas yang disambungkan dengan dogma kehadiran Kelong, akhir kali berlangsung di Karangkemojing, Kecamatan Gumelar, Banyumas, April 2018 kemarin. Korbannya ialah Katiyem, nenek pencarian kayu bakar berumur 60-an tahun.

Setiap hari, Katiyem menolong suaminya cari kayu bakar di tepi rimba tepian kebun masyarakat dengan Perhutani. Seputar jam 10.00 WIB, si suami sempat memerintah Katiyem ambil kapak di timbunan kayu tepi rimba.
Tetapi, sampai beberapa saat selanjutnya, Katiyem tidak kembali lagi bawa kapak. Si suami tidak mengetahui, waktu itu Katiyem telah raib di rimba. Lelah menanti, si suami lalu susul ke timbunan kayu yang jaraknya tidak terlalu jauh. Tetapi, dia tidak mendapati Katiyem di situ.
“Suami korban sempat memberikan laporan peristiwa itu pada pihak dusun untuk lakukan penelusuran,” sebut Komandan Team Reaksi Cepat (TRC) Tubuh Pengendalian Musibah Wilayah (BPBD) Banyumas, Kusworo, waktu itu.
Berita raibnya Katiyem cepat menebar sampai memantik beberapa kekuatan SAR untuk tergabung cari kehadiran orang raib ini. Mereka berkejaran dengan waktu.