Transformasi Manusia

Artikel Transformasi Manusia Dengan Alam Gaib

Transformasi Manusia Benar-benar mengenai alam ghaib itu ibarat tidak logis, atau bisa disebutkan kehadiran alam ghaib suatu hal yang tidak riil. Pasalnya berdasar pemikiran MPO Slot Online mata langsung, alam ghaib itu tidak nampak, dan benar-benar tidak benar-benar ada. Perihal ini pula beberapa beberapa orang yang berasumsi, jika alam ghaib itu cuman fiktif semata, dan suatu hal yang tidak dapat diamankan oleh logika dan akal sehat.

Tetapi namun, rupanya betul ada alam ghaib itu ada. Selaku manusia yang mempunyai kepercayaan dalam agama yang diyakininya. Jika Allah itu membuat segala hal ialah Riil, dan tak pernah suatu hal yang dibuat-Nya terselinap atau diselinapkan. Seluruh terus dipertunjukkan ke kita. Saksikan saja kondisi Alam jagat raya ini, dari yang tidak nampak dapat nampak, sebab Allah membuat juga manusia dengan kondisi yang prima, yakni manusia diberi akal, pemikiran dan kepandaian. Bermodalkan itu manusia diberi kebebasan untuk cari dan ungkap semua rahasia Allah yang betul ada Riil.

Benar-benar pandangan manusia pasti tidak dapat mencapai benda yang ada dibalik tembok. Contoh kecil di atas memperlihatkan begitu indera manusia memiliki kebatasan. Oleh karenanya, teramat lugas bila ada beberapa orang yang menampik beberapa hal ghaib dengan mengagungkan panca inderanya.

Memeriksa sejarahnya, secara psikis, umat manusia –sejak dulu kala– memiliki keinginantahuan yang besar pada segala hal yang memiliki sifat ghaib, terutamanya jika terkait dengan kejadian dan peristiwa di periode tiba. Karena sangat ingin tahunya, kadang mereka meluangkan (baca: mewajibkan) diri untuk bertandang ke tukang ramal; baik dari kelompok pakar nujum, dukun, atau ‘orang pintar’. Ada saatnya dengan mengait-ngaitkan suatu hal yang disaksikan atau didengar, dengan kemalangan atau kesuksesan nasib yang akan dirasakannya (tathayyur). Dan ada saatnya juga dengan yakini ta’bir (takwil) mimpi yang diramal oleh orang pandai –menurut mereka. Tragisnya, orang yang dipandang pahami akan ini malah memperoleh status kunci di tengah-tengah penduduknya dan raih gelar kehormatan seperti orang pandai dan pakar supranatural. Bahkan juga gelar kebesaran ‘wali’ juga seringkali dipasangkan buat mereka. Wallahul musta’an.
Keadaan seperti ini bukan hanya berlangsung pada warga pemula yang sama dengan buta huruf dan warga perdesaan semata-mata. Tetapi kelompok ‘intelektual’ dan modernis juga rupanya ikut tercemar dengan itu semua. Tidak heran bila selanjutnya bermacam jenis ‘ilmu’ yang kabarnya bisa membuka kasus-perkara ghaib meruak ke atas dan banyak didalami oleh beberapa warga, walau dalam praktiknya seringkali harus bekerja bersama dengan jin (baca: setan).
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh berbicara: “Yang terbanyak berlangsung pada umat ini ialah kabar berita jin ke teman-temannya dari kelompok manusia mengenai bermacam kejadian ghaib dari muka bumi ini1. Orang yang tidak paham (proses ini, -pen) menduga jika itu ialah kasyaf dan karamah. Bahkan juga beberapa orang yang tertipu dengannya dan berasumsi jika pembawa informasi ghaib (dukun, paranormal, orang pandai dan lain-lain, -pen) itu selaku wali Allah, walau sebenarnya hakekatnya ialah wali setan. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“Dan (ingat-ingatlah) akan satu hari saat Allah Subhanahu wa Ta’ala kumpulkan mereka, (dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman): ‘Hai kelompok jin (setan). Sebenarnya kalian sudah banyak menyimpang manusia. Lalu berbicaralah teman-teman mereka dari kelompok manusia: ‘Ya Rabb kami, sebenarnya beberapa dari kami sudah mendapatkan kesenangan dari beberapa (lainnya). Dan kami sudah tiba pada saat yang sudah Kamu tentukan’. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Neraka itu rumah kalian. Dan kalian abadi kekal didalamnya, terkecuali jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan (lainnya). Sebenarnya Rabbmu Maha Arif kembali Maha Mengenali.” (Al-An’am: 128) (Fathul Majid, hal. 353).
Saat itu dalam kisah Nabi s.a.w saat bermi’roj dengan dikawal malaikat Jibril, Beliau dipertontonkan oleh Allah s.w.t ke alam gaib. Yaitu kondisi di surga, di neraka dan kondisi-keadaan yang akan menerpa umatnya di periode mendatang. Sama ini memperlihatkan jika yang diartikan alam gaib itu bukan alam Jin atau alam Malaikat serta alam Ruh (ruhaniah). Semuanya sebenarnya adalah alam yang ada dalam dimensi alam Syahadah. Walaupun ada pada dimensi yang lain dari sisi dimensi yang berada di dunia. Yang diartikan dengan alam gaib ialah periode yang belum ada atau alam mendatang.